Tuesday, March 19, 2013

Tanjung Karang: Eksotika Bawah Laut Teluk Palu yang Hampir Terlupakan

Entah mengapa malam-malam begini tiba-tiba saya kepikiran tentang liburan mudik lebaran saya waktu di Palu, kampung saya tercinta. Liburan waktu itu benar-benar menyenangkan. Bagaimana tidak, keluarga dari Makassar datang berkunjung ke Palu untuk ikut lebaran bersama. Lebaran waktu itu rasanya benar-benar ramai. Dan, karena ada keluarga yang datang dari jauh, sebagaimana tradisi dalam keluarga, kami tidak akan membiarkan keluarga kami itu pulang tanpa berjalan-jalan menikmati indahnya kota Palu.




Sehari setelah lebaran, kakak saya tiba-tiba merencanakan untuk pergi berwisata ke pantai Tanjung karang. Wuaah.. tak terkira bagaimana senangnya saya waktu itu. Berhubung saya sangat suka dengan yang namanya pantai, tawaran untuk ikut berwisata ke pantai Tanjung Karang, tentunya tidak akan saya lewatkan begitu saja. Karena rencana ini begitu tiba-tiba, jadinya pada hari itu, kami tidak sempat menyediakan bekal untuk kami makan nanti saat kami berada di sana. Kakak saya menyarankan untuk membeli bekal makanan di warung saja. But, unfortunately, ternyata warung-warung pada tutup semua, mungkin karena saat itu masih dalam suasana lebaran. Di kampung saya memang seperti itu lah adanya, bila ada even hari raya seperti lebaran, toko-toko mungkin akan tutup beroperasi sepanjang libur bersama lebaran. Tiba-tiba saya teringat dengan kehidupan di Makassar, kalau di Makassar, jangankan besoknya, bahkan malam hari setelah lebaran pun toko-toko sudah mulai menggelar dagangannya kembali. Wah, benar-benar jauh berbeda ya. 

Setelah mencari kesana kemari, akhirnya kami mendapatkan warung Kaledo (semacam sup tulang yang dimakan dengan ubi atau nasi) di tengah perjalanan menuju Tanjung Karang. Setelah membeli makanan seperlunya kami kembali melanjutkan perjalanan. Jarak antara kota Palu dengan Tanjung Karang sekitar 40 Km jauhnya, kalau dibandingkan jaraknya di kota makassar, mungkin seperti makassar dengan maros jauhnya, atau mungkin pangkep, yah pokoknya seperti itulah perkiraan jauhnya. Sepanjang perjalanan saya mendapati gunung dan laut yang benar-benar indah. Pemandangannya subhanallah sekali. Rasanya kalau saya naik motor, mungkin saya akan menggenjot sendiri motor saya untuk sekedar berjalan-jalan di sepanjang pantai tak berpenghuni itu. Yah, perjalanan ke Tanjung karang memang melewati bukit dan pantai-pantai yang boleh dibilang masih sangat natural, karena belum terjamah oleh tangan penduduk. Selain pantai, ada juga rumah penduduk yang terlewati, wajar saja, karena letak Tanjung Karang itu sendiri berada di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Perjalanan selama kurang lebih 2 jam, seperti terasa singkat karena mata saya benar-benar dimanjakan dengan pemandangan pantai yang berada di sisi kiri jalan.

Salah satu pantai tak berpenghuni yang digunakan sebagai tempat rekreasi


Sesampainya di sana, kami menyewa tempat (semacam gubuk) yang nyaman untuk tempat berteduh dan menempatkan barang bawaan. Waktu itu, suasananya sangat ramai, mungkin karena masih dalam suasana liburan, jadinya banyak yang datang berlibur ke pantai ini. Suasana pantai di Tanjung Karang mungkin tidak jauh berbeda dengan suasana di Pantai pada umumnya, gubuk-gubuk tempat beristirahat yang terpancang sepanjang pantai, merdunya suara ombak, semilirnya angin, suara-suara dari penjual es krim yang lalu lalang, tukang sewa ban dan tikar yang menawarkan barangnya, serta pengunjung pantai dalam berbagai suku ras dan agama (yaelah, pelajaran PKN pake di bawa2) bersatu dalam satu tujuan yaitu untuk menikmati keindahan pantai. Semuanya terlihat sama saja, sampai saya di ajak oleh kakak saya untuk naik perahu ketek. "Jalan-jalan ke tengah laut", katanya. Wuaah senangnya, apalagi kakak saya menyewakan satu perahu khusus agar saya dan keluarga yang lain bisa menikmati dengan sepuas-puasnya pemandangan saat berada di perahu ketek.

Pemandangan pantai dilihat dari gubuk

Pemandangan saat di perahu ketek



Di atas perahu yang dikemudikan oleh dua orang bapak-bapak (satu di depan, satu lagi di belakang), kami bisa melihat pemandangan pantai Tanjung Karang yang subhanallah cantiknya. Selain pantai pasir putihnya, pantai ini ternyata memiliki bagian pantai yang dipenuhi dengan karang-karang tajam dengan tebing tepat di depannya. Sungguh pemandangan yang benar-benar menyejukkan mata. Yang paling menakjubkan lagi adalah, di bagian bawah lautnya. Bila anda pencinta segala hal yang berkaitan dengan dunia bawah laut, mungkin anda akan terpesona melihat keindahan alam bawah laut yang dimiliki oleh pantai Tanjung Karang ini. Batu-batu karang dengan berbagai macam ikan warna warni, rasanya tidak kalah dengan wisata bawah laut Bunaken. Sayang sekali saat itu saya tidak punya alat snorkling, jadi saya hanya bisa memandangi keindahan bawah laut dari kaca transparan yang di pasang di bagian tengah perahu.

pemandangan tebing dan batu karang di dekat pantai

batu, tebing, batu karang, how perfect!



Cukup lama kami berada di Pantai Tanjung Karang sembari menikmati keindahannya. Tepat sebelum adzan ashar berkumandang, kami pun pulang. Pengalaman yang benar-benar berkesan bagi saya. Pantai yang indah, pemandangan bawah lautnya yang eksotis, rasanya benar-benar sayang, pemerintah masih kurang memperhatikan pantai ini. Pemeliharaan pantai, tata letak tempat berteduh serta kebersihan pantai, saya rasa masih belum terlalu maksimal. Padahal, bila ditata dengan baik, saya yakin pantai ini bisa menjadi salah satu tempat wisata favorit tidak hanya bagi pengunjung dari kota Palu saja, tapi dari luar daerah kota Palu, atau bahkan dari luar negeri. Setidaknya, pantai Tanjung Karang bisa menjadi salah satu ikon wisata di kota Palu, dan menjadi objek wisata yang bisa direkomendasikan saat wisatawan datang berkunjung ke kota Palu, Sulawesi Tengah.

Yah, tapi opini, tetaplah menjadi opini, kita mungkin tidak bisa berharap terlalu banyak ke pemerintah. Bila bukan dari diri kita sendiri, lalu siapa lagi yang ingin mengubahnya. Paling tidak menjadi pengunjung pantai yang baik dengan tidak membuang sampah sembarangan bisa jadi satu langkah awal agar pantai ini setidaknya bisa bangun dari keterpurukan.

Jadilah bermanfaat, bila tidak bisa, maka jangan malah menambah kerusakan.
Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Silahkan meninggalkan komentar anda di bawah ini. Komentar yang menggangu, berbau SARA, pornografi dan mengandung SPAM akan segera kami hapus. Terimakasih atas kunjungannya.