Sunday, June 9, 2019

28 September 2018

Sore itu, aku sedang duduk menunggu kata-kata "selamat akun anda berhasil dibuat" muncul di layar laptop. Aku, bersama perawat gigi ku sedang mencoba peruntungan nasib, mendaftar sebagai salah satu calon abdi negara. Tahun ini, bukaan formasinya cukup banyak. di daerahku, lumayan banyak juga terbuka. Bahkan di puskesmas tempatku bekerja waktu itu, juga terbuka 1 lowongan, tapi tentu saja aku tidak terlalu berminat mendaftar disini.. It's all about niat hehehe

"Belum ya dok?", kata perawat gigiku, aku mengangguk pendek sambil mengunyah sisa jalangkote yang kubeli dijalan menuju ke tempat ini. Jalangkote itu sungguh besar, dijual seharga 5 ribu perbiji, tapi besarnya hampir mirip seperti 5 buah jalangkote ukuran sedang. Dan tentu saja, itu adalah jalangkote terenak yang ada di kota ini. Aku menyukainya. hahaha :D

"Lama sekali ya dok, loading..." katanya lagi. 
"Iye, padahal kemarin cepatji" jawabku.
"Rejeki ta itu dok, kemarin sempatji masuk akun ta, ededeh punyaku ndak tau kenapa loadingki"
"Ka dari kemarin kubilang memang kita mi duluan daftar, ndak mendengarki" 
Wajahnya mengkerut, aku hanya tertawa melihatnya, sepertinya dia agak kesal. Hahaha. 

Tiba-tiba dari balik pintu muncul beberapa orang pegawai puskesmas sambil membawa laptopnya masing-masing.
"Dok, mendaftarki? ikutka juga" kata mereka
"Iya sini mi, kemarin daftar ka jam segini bagus ki loadingnya, karena lagi sepi mungkin yang daftar jam segini, tapi ndak tau ini kenapa na loading sekali hari ini, sibukki servernya kapang"
"Biarmi dok, coba-coba saja toh, kalau masuk alhamdulillah, kalau ndak, bisa jiki minta didaftarkan di jl. veteran"
"Mahal toh bayarnya, saya yang gretongan mi saja deh hahaha, untung ada wifinya puskesmas" kataku
"Itulah dok, hehehe" 

Kulirik jam tanganku, ya ampun sudah jam 4 lewat. Mungkin jam 5 baru bagus, pikirku.
Tidak berapa lama kemudian, salah seorang pegawai tiba-tiba berseru, 

"Gempa!!" 

Aku refleks berdiri
"Ndak saya rasa"
Yang lain juga mengaminkan.

Aku turun ke lantai 1, kudapati beberapa perawat jaga yang sedang menyantap makanannya. 
"Gempa ya? ndak rasa?" tanyaku pada mereka, kulihat mereka santai saja, sepertinya tidak merasakannya juga.
"Iye gempa memang dok, tapi hanya pelan, jadi kitorang makan saja"
"Astaga hahaha, okelah" kugelengkan kepala sambil berlalu naik lagi ke atas. 

Aku masuk kembali ke ruangan poli
"Gempa kan dok?" tanya pegawai yang tadi
"Iye, tpi katanya pelanji.. itu.. orang di bawah santaiji makan, wkwkwk" jawabku
"Hahaha memang itu mereka dok" 

Kulanjutkan pekerjaanku, menunggu.. hingga layar laptop berubah, hahaha pekerjaan apa coba itu.
Sambil menunggu, ku hubungi adikku dan menyuruhnya untuk mengirim berkasnya padaku agar bisa ikut kudaftarkan hari itu. 

Pukul 5.30 pegawai yang tadi ikut mendaftar, akhirnya menyerah dan memilih pulang lebih awal. Mereka pamit dan pergi meninggalkan aku dan perawat gigi ku di poli.

"Kak, tauki, kemarin toh, ngerinya" tiba-tiba aku membuka pembicaraan. Pekerjaan menunggu ini sungguh membosankan :D 
"Knapai dok?" tanyanya
"Kemarin kan sholat maghribka di musholla yang di ujung itu toh kak"
"Iye knapai?"
Aku melanjutkan "Kan gelap sekali disitu, ndak ada lampu, tpi saya toh orangnya ndak takut ji sama yang begitu-begituan, jadi saya pergimi berwudhu disitu, awalnya saya ndak rasa ji apa-apa pas wudhu, abis itu saya masuk mi toh kak, saya lihat, ih terangji ternyata ini musholla, karena mungkin jendelanya terbuka semua toh, saya dapat alat sholat disitu, trus sholatma, pas rakaat pertama ndak ada ji kenapa-kenapa.. mulai rakaat kedua.." aku terhenti sejenak melihat ekspresi seriusnya, aku hampir saja tertawa melihatnya.
"Knaaapai dook? ih kita toh.." dengan muka serius ia bertanya, sepertinya tidak sabar dengan kelanjutan ceritaku
"Pas rakaat kedua kak, mulai merinding bulu kudukku, pas rakaat ketiga pas sujud, tiba-tiba PAAANG.. itu pintu musholla kak, tiba-tiba tertutup sendiri, padahal kan saya sholat menghadap ke jendela toh kak, dan gak ada sama sekali angin kencang yang bertiup"
Ia mulai bergidik ketakutan "Kubilang memangji dok, sholat sama-sama miki saja di aula"
"Kotorki di aula kak, ka banyak orang injak-injak lantainya, lagian toh mana juga saya tau kalau ada sesuatu disitu, eh.. belum pi selesai ini kak" lanjutku.. "Pas sujud ka, kudengar kayak ada orang remas ki itu pintu musholla, saya pikir kita, tapi beberapa lama ndak bicara-bicaraki, jadi kubilang, auuuh ndak benar mi ini, hahaha"
"Kan kita suruhka tunggui laptop dok" jawabnya.
"Itumi kak, terus pas duduk tahiyat ka, kurasa seperti ada orang berdiri dibelakangku, awweeh.. berdiri langsung bulu kudukku, tpi ku kasih tenang-tenang pikiranku toh kak, kubilang, kan ada Allah yang melindungi"
"Iye dok"
"Terus selesaika salam kutengok sebentar ke arah pintu, moka pastikan, kita ji kah tadi itu, tpi ndak ada kulihat siapa-siapa disitu, terus berdoa ma, abis itu ngomong ka toh, "Ndak mengganggu ja, mauja pergi sholat", cepat-cepatka lipat mukena trus kabur, hahahaha"
"Kita toh dok, mungkin cuma kita itu yang ndak tau ada sesuatu itu disitu, semua pegawai disini itu dok, jangankan mau ke musholla, mau naik ke sini saja takutki, kita ji itu beraniki naik kesini sore-sore" katanya
"Kutauji sebenarnya kak, tpi ndak percaya ka, lagian kenapa mesti takutki na ada ji Allah lindungiki" jawabku
"Ndak takut beng, baru lari tongi, hahaha" ejeknya
"Ka manusia tonjaki wkwkwk"

Tidak berapa lama kemudian, adzan maghrib berkumandang. Di poli gelap, tidak ada lampu, lebih tepatnya kabel lampunya rusak :D hehehe.. kunyalakan lampu kursi gigi untuk penerangan. 

"Dok adzan mi, ayok sholat" tegur perawat gigiku

"Iya kak, pergimiki sholat, sudah adzan maghrib itu, ganti-gantian miki saja sholat, soalnya siapa tau tiba-tiba muncul notif" kataku 
"Baik dok, saya sholat di bawah mi dok dih?, ndak mauka sholat di musholla, gelap ki, takutka" sambil berlalu pergi
"Hahaha baa iye, ka di aula juga kotorki, mending di bawah miki" jawabku sambil menoleh. Yang diajak bicara bahkan sudah pergi dari tadi. :D

Aku sendirian di atas, terus memandangi layar laptop yang bahkan tidak berubah sedikitpun.. "Lamaanyaa" pikirku. Kupandangi plastik pembungkus jalangkote di atas meja. 
"Uhhuy, masih ada satu" 
Kulahap saja sebiji jalangkote ukuran besar yang masih tersisa. 

Tiba-tiba...

BUM..BEDEBAMM.. 

Kursi tempatku duduk bergoyang sangat keras, naik turun.. kulemparkan jalangkote yang sisa setengah kulahap dan segera bangkit dari kursiku

"GEMPA!!"

belum berhenti goyangannya, tiba-tiba lantai tempatku berpijak menghempaskan badanku dengan gerakan yang sangat cepat.. aku terjatuh, kuraih pegangan pintu poli dan segera berdiri, aku berlari keluar, lalu terjatuh, kepalaku membentur keras pembatas tangga, mungkin bila dalam keadaan normal, aku pasti merasakan rasa senut yang teramat sangat saat itu, tpi sepertinya kepanikan mengalahkan segalanya, aku mati rasa, pendengaran dan indera perasaku rasanya kelu, aku sempat mendengar bunyi dentuman keras seperti ledakan bom yang terjadi berulang-ulang, kemudian tiba-tiba hilang begitu saja seperti ada yang menyumbat telingaku hingga aku tidak mendengar apa-apa lagi.. pandanganku gelap, tpi kucoba meraih pegangan tangga dan berdiri, lalu terjatuh lagi entah di anak tangga yang mana, aku berdiri lagi, dan melompati dua anak tangga sekaligus hingga akhirnya keluar dari gedung. Saat itu aku tidak memikirkan aa-apa, yang kupikir hanya berusaha untuk keluar secepatnya dari gedung ini, insting survive ku rasanya teraktivasi saat pertama getaran gempa itu muncul.

Aku keluar..

Dokter jaga sore, perawat dan orang-orang sudah berkumpul di depan halaman. Kulirik mereka satu persatu, dan baru menyadari, perawat gigiku belum keluar dri gedung.
"Mana kak Ani?" seruku pada perawat yang ada diluar gedung
"Masih di dalam dok" jawab mereka
"Astagfirullah, semoga ndak kenapa-kenapa ji dia"
Aku berniat masuk kembali, tapi kemudian tertahan saat kulihat perawat gigiku akhirnya keluar dari gedung dalam keadaan selamat.
"Astaga dari manaki kak? knapa baruki keluar? saya pikir di tindis maki sama lemari" kataku khawatir
"Iye dok, hampirmi, baruka mau sholat tadi, na tiba-tiba gempa, mauka keluar, pintu loket tiba-tiba tertutup, jadi saya sembunyi di bawah meja mi" Jawabnya
"Alhamdulillah ndak kenapa-kenapa jiki" kataku lega

Semua motor yang tersimpan di halaman depan puskesmas, terjatuh seperti kartu domino yang dijatuhkan satu persatu. Salah satu spion motorku pecah. Gedung perawatan yang terpisah dari gedung utama, rusak parah, obat-obatan berhamburan, bahkan tanah yang kami pijak terbelah, berundak-undak, seperti tanah tandus di afrika. Air PAM yang keluar begitu deras dari bawah tanah yang mengalir bagai sungai menambah kepanikan semua warga. 

"Air naik!!" kata mereka
"Bukan pak, itu air PAM yang bocor, dan lagi kita berada di ketinggian juga, jadi tidak perlu khawatir" seruku pada warga, mencoba menenangkan mereka. 

Dokter yang menjaga sore itu segera saja membereskan barangnya dan pulang bersama anaknya yang menangis ketakutan. Bersyukur saat itu ada mamang ojek online yang singgah, jadi mereka akhirnya pulang menggunakan jasa si mamang ojek. Tinggallah aku, perawat gigiku dan beberapa pegawai puskesmas yang tinggal dekat situ. Gempa susulan tak henti-hentinya terjadi dengan skala yang lumayan besar. Kami hanya bisa terduduk di halaman puskesmas. Tak berapa lama suara motor datang menderu-deru. Masyarakat datang membawa sanak saudaranya yang tertimpa bangunan, ada pula yang terjatuh dari motor karena berkendara saat gempa terjadi. Halaman puskesmas tiba-tiba penuh dengan masyarakat yang butuh perawatan. Mereka datang dengan baju berlumuran darah, kepala yang sobek dan pecah akibat tertimpa bangunan, bahkan ada yang kejang. Kami bingung harus bagaimana, ruang perawatan sudah hampir roboh, dan semua obat-obatan ada disana, sementara, gempa terus saja terjadi. Ingin masuk mengambil obat takut tertimpa bangunan, dokter jaga sudah tidak ada, menghubungi beliau untuk minta instruksi juga sudah tidak bisa karena telekomunikasi tiba-tiba terputus saat gempa. Kami hanya membalut sekenanya dan menganjurkan untuk membawa ke Rumah Sakit terdekat. Baru beberapa waktu kami baru tahu, ternyata Rumah Sakit yang paling dekat dengan puskesmas pun ternyata rusak parah. Ya Allah, ampuni kami. 

Pukul 6 lewat, aku baru sadar barang-barangku semuanya ada di ruang poli lantai 2. Laptop handphone, kunci motor dan ransel. Beruntung saat itu ada satpam puskesmas. Aku memintanya menemaniku masuk ke dalam gedung mengambil barang-barangku. Aku segera berlari masuk mengambil semuanya lalu keluar lagi. Bapak satpam dengan sigap mengunci semua pintu gedung puskesmas. 

"Dok, mauki pulang? ke rumah miki saja nginap sehari" kata perawat gigiku
"Aduh, saya khawatir sama orang tuaku kak, dan lagi belumpa dapat kabar ini dari mereka, baterai hapeku sisa 5 persen mami ini, baru ndak ada signal, mendingan saya pulang mi" kataku
"Kita toh dok beraninya, mana bensin motor ta tinggal 1 strip, mana bisa sampai rumah itu" katanya sambil melirik ke penunjuk bensin di motor.
"Aih bisaji itu, nanti bisaji beli di jalan klo ada" 
"Oh iye dok, klo ada di jalan ambil miki saja klo ndak ada penjualnya, tpi ingatki dimanaki ambil, supaya besok-besok kita bayar klo adami penjualnya" 
"Oh baa, klo begitu saya dluan kak" segera saja ku nyalakan motorku dan pergi.

Pemandangan di jalan ternyata lebih mengerikan lagi. Saat itu, matahari sudah terbenam sepenuhnya. Gulita.. hanya lampu kendaraan yang menyala. Dimana-mana terlihat jalanan yang retak, bangunan yang hampir roboh, bahkan ada jalanan yang aspalnya terangkat hingga 3 meter. Ya Allah.. 

Seketika macet dimana-mana. Mereka yang ingin mengungsi dan mereka yang mencari sanak keluarganya, berkumpul dijalanan. Hampir macet total. Di kiri kanan badan jalan, anak-anak dan orang tua menangis, berpelukan, ada yang berlarian, membawa pakaian seadanya. Entah mau lari kemana mereka. Terdengar lantunan syahadat dari mulut-mulut mereka. Ketakutan, kecemasan, kekhwatiran, rasa-rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Seakan kiamat sudah datang.

Tiba-tiba terdengar seruan 
"AIR NAIK!! JEMBATAN PUTUS!! PUTAR BALIK!!"

Seketika orang didepanku memutar kendaraannya. 

"BALIK!! BALIKK!! AIR NAIK!!"

Aku yang tak tahu apa-apa mengikut saja, toh klo memaksa gak bisa tembus juga klo jembatan putus. Jalan pulangku ke rumah semuanya mesti lewat jembatan, dan aku gak tau jembatan mana yang putus. 

Ah, bensin motorku juga sudah hampir di penghujungnya, sepertinya tidak akan mampu membawaku sampai di tempat yang aku tuju. Belum beberapa ratus meter, kuputuskan untuk ke rumah perawat gigi ku yang berada tak jauh dari puskesmas. 

Di tengah jalan, ada seorang ibu di atas mobil open kap, meminta tolong padaku untuk ikut bersamaku. Kuiyakan saja, sambil mengikuti mobilnya dari belakang. Tiap kali mobil itu berhenti sebentar, aku pun berhenti, tpi belum sempat ibu itu turun, mobil itu kembali berjalan. Kejadian itu berulang berkali-kali, dan pada akhirnya si Ibu berteriak padaku, "Gak usah nak, terima kasih", aku berhenti sejenak, melihat mobil si ibu yang berlalu pergi. Semoga ibu itu baik-baik saja, kataku dalam hati. Kuputar motorku menuju rumah perawat gigiku. 

(bersambung)













Saturday, June 8, 2019

Mari berbahagia!

Well, beberapa hari yang lalu ied fitri baru saja dilaksanakan. Dan aku yang berada di kampung orang, tentu saja ikutan mudik ke kampung halaman. Di sini, di tempat yang aku sebut kampung halaman, rasanya.. semua kehidupan kembali berada di porosnya. Begitu banyak yang berubah, rumah, keluarga, dan tentu saja saya sendiri :D hehehe...

ah waktu-waktu yang terlewati..

Sempat teringat, ceramah ustadz di lapangan setelah sholat ied fitri tentang definisi kebahagiaan (loh koq malah tiba2 kesitu ? :D hahaha). Beliau bertanya, apa sebenarnya bahagia itu? kemasyhuran? kesehatan? kekayaan? pangkat? jabatan?.. beliau melanjutkan.. lalu mengapa masih ada orang yang mendapatkan semua itu malah mati bunuh diri? apakah mereka "bahagia"?.. lalu beliau melanjutkan, karena sesungguhnya, bahagia itu adalah perasaan dari diri sendiri, adalah bagaimana rasa sabar dan syukur atas segala apa yang diberikan kepada kita.. and you know what guys? gak terasa air mata ini netes, jatuh gak terbendung.. sekian lama, mencari definisi bahagia, dan mendapatkan penjelasan se simple itu?? Masyaa Allah.. barokallahufiikum ustadz.. terima kasih atas pencerahannya. Akhirnya saya mencoba mengerti, bahwa ketika sesuatu terjadi, ada hal yang hanya bisa kita terima saja tanpa harus melawan takdir yang ada, tanpa harus menyalahkan keadaan atau bahkan menyalahkan Sang Pembuat Takdir, astaghfirullah..

Ada yang bilang, ini adalah bahagia yang tertunda, entah sampai kapan ditundanya, yang pasti ditengah-tengah kesemrawutan hidup, Allah selalu saja ngasih signal-signal jalan keluar biar gak mumet.

Jadiii sekarang, saatnya buat move on, mari bersemangat lagi meraih target yang belum terpenuhi, bersama sahabat-sahabat yang masih setia disamping kita, dan tentu saja bersama sang Pencipta, Rabb semesta alam.

Mari berbahagia!
Ganbatte ! \(^0^)/